Logo Muktamar NU ke-35
← Semua berita
liputan · 19 Agustus 2026

Cerita Angka 25 yang Melegenda dan Gurita Pesantren Tambakberas, Tuan Rumah Muktamar NU

Pesantren Bahrul Ulum yang berdiri pada 1825 awalnya berkembang secara perlahan dengan jumlah santri hanya 25 orang dan keluar masuk silih berganti secara konsisten dengan angka yang tak pernah berubah.

Rep. Saiful

Red. Cak / Fajar

Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang di masa awal pendirian terkenal dengan sebutan Pondok Selawe
Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang di masa awal pendirian terkenal dengan sebutan Pondok Selawe

JOMBANG – Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang menjadi momentum refleksi sejarah pendidikan pesantren di Indonesia.

Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq, menuturkan, cikal bakal pesantren dirintis oleh KH Abdus Salam yang dikenal dengan sebutan Mbah Shoichah.

Pesantren yang berdiri pada tahun 1825 awalnya berkembang secara perlahan. Jumlah santri kala itu hanya 25 orang dan keluar masuk silih berganti secara konsisten dengan angka yang tak pernah berubah. Kondisi tersebut berlangsung cukup lama hingga lokasi pesantren kemudian bergeser ke wilayah Gedang, tempat kelahiran KH Hasyim Asy'ari. Hal tersebut terbukti dengan adanya bangunan masjid yang menjadi bagian dari jejak sejarah perkembangan pesantren Bahrul Ulum di area tersebut.

Dari Gedang, pusat pengembangan pesantren kemudian berpindah ke kawasan Tambakberas. Sejak masa KH Hasyim Asy'ari, pesantren yang sebelumnya dikenal sebagai Pondok Selawe atau 25 tersebut terus berkembang hingga menjadi kompleks pendidikan seperti sekarang.

"Kalau sekarang, jumlah santri Bahrul Ulum sekitar 16.000 orang, mulai PAUD sampai perguruan tinggi," ucap Gus Rozaq saat dikonfirmasi awak media di Kantor Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Selasa (18/8/2026).

Dari jumlah tersebut, sekitar 12.600 santri menempuh pendidikan mulai jenjang PAUD hingga Madrasah Aliyah. Sedangkan lebih dari 3.000 lainnya merupakan mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi di lingkungan Bahrul Ulum, antara lain Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha), IAIBAFA, dan STIKes. Total untuk pendidikan formal, terdapat sekitar 19 lembaga.

Seluruh lembaga yang berada di kawasan Bahrul Ulum masih berada dalam satu naungan pesantren. Saat ini terdapat sekitar 50 ribath atau lembaga pendidikan Islam yang menjadi bagian dari jaringan keluarga dan keturunan KH Abdul Wahab Hasbullah.

Menilik waktu pengembangan pesantren yang hampir mencapai dua abad, jumlah alumni diperkirakan telah mencapai puluhan ribu orang. Bahkan salah satu tokoh yang memiliki keterkaitan erat dengan Tambakberas, yaitu Presiden keempat Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Gus Dur sebagai bagian dari keluarga besar Tambakberas dan pernah menjadi kepala madrasah di lingkungan pesantren tersebut.

Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Terkini

Kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas kini memiliki luas sekitar 10 hingga 12 hektare. Luasan tersebut masih memungkinkan bertambah seiring pengembangan kawasan pesantren. Para santrinya mempertahankan karakter khas komunal yang terlihat dari satu kamar umumnya ditempati sekitar 10 hingga 15 santri.

Untuk tempat beristirahat, santri juga terbiasa memanfaatkan berbagai ruang yang tersedia di lingkungan pesantren, seperti halaman, teras, hingga serambi masjid. "Pola kehidupan tersebut menjadi bagian dari karakter dan tradisi pesantren yang telah berlangsung turun-temurun," ujar Gus Rozaq melanjutkan.

Kehidupan bersahaja pesantren tidak dapat dilepaskan dari sosok KH Abdul Wahab Hasbullah atau Mbah Wahab. Tokoh kelahiran Tambakberas ini dikenal sebagai salah satu ulama penting yang berperan dalam lahir dan berkembangnya Nahdlatul Ulama.

Mbah Wahab terlahir sebagai putra sulung KH Hasbullah Said. Adik-adiknya antara lain KH Abdul Hamid Hasbullah, KH Abdul Rahim Hasbullah, Nyai Nur Khadijah Hasbullah yang kemudian menjadi istri KH Bisri Syansuri dari Pondok Pesantren Denanyar, serta Nyai Fatimah Hasbullah.

Masa muda Mbah Wahab yang belakangan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2014 tersebut dihabiskan untuk menimba ilmu agama Islam. Dimulai dari Bangkalan, Madura, kemudian melanjutkan perjalanan ke Mekkah. Pengalaman pendidikan dan perjalanan intelektual tersebut kemudian membentuk sosoknya sebagai ulama yang memiliki pandangan luas.

Mbah Wahab juga dikenal sebagai salah satu inisiator, pendiri, sekaligus penggerak NU. Atas restu KH Hasyim Asy'ari, Mbah Wahab berkontribusi besar dalam proses pendirian dan pengembangan organisasi tersebut. Atas jasa dan perjuangannya Mbah Wahab ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

"Beliau merupakan salah satu tokoh terbaik yang dilahirkan Bahrul Ulum Tambakberas. Kehadiran beliau merupakan anugerah Allah," kata Gus Rozaq.

Bagi kaum santri Bahrul Ulum, warisan perjuangan Mbah Wahab tidak hanya diwujudkan melalui pengenangan sejarah, tetapi juga diterapkan dalam sistem pendidikan pesantren. Salah satu nilai yang terus ditanamkan adalah sikap visioner dan kemampuan beradaptasi.

Perubahan zaman dinilai sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari, sehingga generasi santri harus mampu menghadapinya tanpa kehilangan jati diri. Prinsip tersebut sejalan dengan kaidah Al-Muhafazhatu 'ala al-qadimis shalih wal-akhdzu bil-jadidil ashlah, yakni mempertahankan tradisi lama yang baik sembari mengambil hal-hal baru yang lebih baik.

Tradisi pesantren salaf pun tetap dipertahankan di Tambakberas. Pengajian sorogan dan pembelajaran kitab kuning dengan metode khas pesantren masih menjadi bagian dari kehidupan santri. Pendidikan modern juga terus dikembangkan agar santri memiliki bekal menghadapi tantangan masa depan.

"Tradisi lama tetap kami pertahankan, tetapi pendidikan juga terus kami kembangkan untuk mempersiapkan santri menghadapi masa depan. Tantangan generasi mendatang tentu berbeda dengan tantangan yang kita hadapi sekarang," jelas Gus Rozaq.

Bahrul Ulum Siap Sambut Muktamar ke-35 NU

Sebagai salah satu perintis pusat pendidikan Islam, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas kini tengah bersiap menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Salah satu perhatian utama adalah akomodasi bagi para muktamirin yang akan datang dari berbagai daerah di Indonesia.

Sebanyak 310 kamar telah disiapkan dan dilengkapi pendingin ruangan atau AC sesuai standar yang ditetapkan PBNU. Kamar yang disiapkan berukuran sekitar 7x9 meter dan akan ditempati sekitar 12 muktamirin.

Panitia juga telah menyediakan matras dan kasur dengan ketebalan sekitar 20 sentimeter, lengkap dengan bantal dan seprai berlogo NU. Kamar juga dilengkapi karpet serta fasilitas kamar mandi dengan rasio sekitar satu kamar mandi untuk 10 orang.

"Insya Allah, kami sudah sangat siap. Kami mohon doa agar Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas mampu menjadi tuan rumah yang baik bagi para peserta Muktamar ke-35 NU dari seluruh Indonesia," pungkas Gus Rozaq.

Penulis: Anggit Pujie Widodo