Di Ndhalem Kasepuhan Mbah Wahab, Musyawarah AHWA Akan Melahirkan Rais Aam PBNU
Musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).
Rep. Saiful
Red. Cak / Fajar
JOMBANG – Musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Forum yang akan menentukan Rais Aam PBNU periode mendatang itu dipastikan berlangsung di Ndhalem Kasepuhan KH Abdul Wahab Hasbullah, kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang.
Pemilihan lokasi tersebut bukan sekadar pertimbangan teknis. Ndhalem Kasepuhan Mbah Wahab memiliki nilai historis yang kuat karena menjadi salah satu tempat yang berkaitan erat dengan perjalanan perjuangan KH Abdul Wahab Hasbullah dalam menggagas, mendirikan, dan mengembangkan NU.
Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq, mengatakan panitia lokal sebelumnya sempat mempertimbangkan kawasan makam sebagai lokasi pelaksanaan AHWA.
Namun, rencana itu kemudian diubah. Kawasan makam diperkirakan akan menjadi salah satu titik dengan tingkat aktivitas dan kunjungan yang tinggi selama Muktamar ke-35 NU berlangsung. “Memang awalnya kita punya wacana ditempatkan di area makam. Tapi karena di situ area keramaian, jadi kita geser ke Ndalem KH Wahab Hasbullah,” ujar Gus Rozaq, Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, Ndhalem Kasepuhan Mbah Wahab dinilai lebih tenang dan kondusif untuk pelaksanaan forum yang membutuhkan suasana khidmat serta fokus tersebut.
Lebih dari itu, pemilihan tempat tersebut sekaligus menghadirkan makna simbolik. Forum yang akan membahas kepemimpinan tertinggi NU justru digelar di rumah yang memiliki kaitan erat dengan sejarah perjuangan salah satu pendiri NU.
“Ini sekaligus untuk mengenang awal perjuangan Kiai Wahab mendirikan NU yang memang berawal dari rumah tersebut,” kata Gus Rozaq.
AHWA merupakan salah satu mekanisme penting dalam tradisi organisasi NU. Forum ini melibatkan sembilan ulama yang mendapatkan mandat untuk bermusyawarah dalam menentukan Rais Aam PBNU untuk periode berikutnya.
Berbeda dengan mekanisme pemilihan yang bertumpu pada kontestasi terbuka, AHWA mengedepankan musyawarah dan pertimbangan para ulama yang dinilai memiliki kapasitas keilmuan, ketokohan, serta kebijaksanaan.
Forum tersebut diharapkan mampu menghasilkan keputusan yang tidak hanya mempertimbangkan kepentingan organisasi, tetapi juga kemaslahatan umat dan masa depan NU.
Karena itu, pemilihan Ndhalem Mbah Wahab sebagai lokasi AHWA menjadi semakin bermakna. Tempat tersebut tidak hanya menjadi ruang berlangsungnya musyawarah, tetapi juga menghadirkan kembali ingatan tentang akar sejarah NU dan perjuangan para pendirinya.
Bagi panitia lokal Tambakberas, suasana historis tersebut diharapkan dapat menjadi energi spiritual sekaligus pengingat bagi para peserta AHWA untuk menjaga nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para muassis NU.
Mekanisme AHWA sendiri telah menjadi bagian dari tradisi kepemimpinan NU. Sistem tersebut memberikan ruang kepada para ulama untuk bermusyawarah secara lebih mendalam dalam menentukan sosok yang dianggap paling tepat mengemban amanah sebagai Rais Aam Syuriyah PBNU.
Dengan mengedepankan musyawarah, ketokohan, kedalaman ilmu, dan kemaslahatan umat, AHWA diharapkan mampu menjaga marwah kepemimpinan ulama sekaligus memperkuat tradisi regenerasi kepemimpinan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Pelaksanaan AHWA di Ndalem Kasepuhan Mbah Wahab pun akhirnya bukan hanya menjadi bagian dari agenda Muktamar ke-35 NU, tetapi juga menjadi simbol pertemuan antara masa lalu, perjuangan para muassis, dan masa depan kepemimpinan Nahdlatul Ulama.
Penulis : Rohmadi